Home / Berita Umum / Puan Maharani Terlahir Dari Keluarga Presiden

Puan Maharani Terlahir Dari Keluarga Presiden

Puan Maharani Terlahir Dari Keluarga Presiden – Usianya memanglah masih tetap termasuk muda, serta masih tetap digolongkan menjadi salah satunya tokoh politisi muda yang dipunyai bangsa ini. Tetapi, disadari ataukah tidak kematangannya berpolitik dapat disebutkan sudah melebihi beberapa politisi seusianya, bahkan juga tidak terlalu berlebih waktu dijajarkan dengan beberapa politisi kawakan yang ada sekarang ini. Dia merupakan Puan Maharani, putri dari pasangan Taufiq Kiemas (almarhum) serta Megawati Soekarnoputri.

Berubah menjadi putri Megawati –yang sempat berubah menjadi Wakil Presiden lalu berubah menjadi Presiden ke lima RI serta sekarang ini masih tetap berubah menjadi Ketua Umum PDI Perjuangan– berubah menjadi salah satunya yang meningkatkan nilai plus untuk figur Puan. Juga demikian, bapak Puan, Taufiq Kiemas paripurnanya menjadi politisi merupakan Ketua MPR.

Putri dari pasangan yang ibunya sempat berubah menjadi presiden serta ayahnya sempat berubah menjadi Ketua MPR memanglah menempel pada figur Puan. Bahkan juga, dari bagian silsilah keluarga, Menteri Koordinator Bagian Pembangunan Manusia serta Kebudayaan (Menko PMK) itu juga teristimewa karena kakeknya merupakan Sang Proklamator bangsa ini, yaitu Presiden pertama Indonesia Ir Sukarno.

” Cuma Mbak Puan di Indonesia in, yang ibu serta kakeknya presiden, serta ayahnya Ketua MPR, ” tidak terlalu berlebih bila banyak yang mempunyai pengakuan semacam itu. Sebagai pertanyaan, apakah cuma karenanya, Puan saat ini berubah menjadi salah satunya elite terpenting di PDI Perjuangan, serta diakui oleh Presiden Joko Widodo menempati tempat terpenting menjadi Menko PMK?

Atas pertanyaan itu, pasti umum banyak yang mengiyakan. Namun, tentu banyak pula yang menyangkalnya, serta berargumen jika Puan memanglah telah rasakan gemblengan politik semenjak remaja, serta telah ikut serta dalam kontestasi politik yang membuatnya makin masak di umur mudanya.

Penuh Tantangan

Lahir pada September 1973, Puan baru berumur 20 tahun waktu berlangsung momen bersejarah yang sangat memastikan untuk ibunya, yaitu Kongres Luar Umum (KLB) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya pada 1993. Waktu berlangsung momen mencekam serta penuh kemelut dalam momen politik itu, Puan bersama dengan sang bapak bukan sekedar berubah menjadi saksi mata, namun sekaligus juga rasakan atmosfer politiknya. Puan juga sering dibawa keliling oleh ibunya dalam koalisi politik yang penuh tantangan, karena berseberangan dengan kehendak politik rezim otoriter Orde Baru saat itu.

Merujuk sekelumit dari banyaknya contoh itu, pasti tidak adil –atau bahkan juga sangat sinis– bila menilainya figur Puan yang saat ini cuma karena aspek kebetulan saja, yaitu kebetulan menjadi cucu serta putri Presiden Indonesia, yang ayahnya merupakan Ketua MPR. Karena, faktanya seperti buah ia sudah belajar dengan cara langsung dari pohonnya, serta ikut serta dengan cara langsung dalam momen serta dinamika di lingkungan politiknya.

Dengan serangkaian keterlibatan secara langsung di arena politik serta dinamikanya semenjak partai masih tetap bernama PDI sampai saat ini namanya PDI Perjuangan (PDIP), jadi sulit untuk digugat waktu dalam dua periode Ketua Umum PDIP Megawati memercayakan tempat Ketua DPP Bagian Politik. Juga demikian waktu Presiden Jokowi menunjuknya menjadi Menko PMK, karena tidak hanya kapasitasnya, Puan merupakan politisi muda yang telah keliling ke pelosok Nusantara, serta berubah menjadi ” komandan ” pemenangan PDI Perjuangan di Pemilu 2014 sekaligus juga memimpin Team Pemenangan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla di Pemilihan presiden 2014.

Bekerja Keras

Ia memanglah dididik oleh pasangan keluarga politik untuk selalu teguh serta tetap berusaha keras. Saya ingat waktu pada 2013 Puan diakui sang ibu untuk ” mengomandani ” pasukan tempur di Pemilihan kepala daerah Jawa Tengah dengan tanpa ada pilihan tidak hanya mesti memenangi pasangan Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko. Memulai pertempuran politik dimana pasangan Ganjar-Heru kepopulerannya masih tetap dibawah angka 7%, serta mesti melawan calon incumbent Bibit Waluyo, pasti bukanlah hal yang ringan. Namun, Megawati tidak ingin tahu, tidak hanya cuma kesuksesan sang putri untuk menunjukkan jika Jawa Tengah merupakan Kandang Banteng.

Saat itu, dengan suara guyon namun maknanya begitu dalam, Megawati mengemukakan ancaman di depan kader-kader PDIP di Jawa Tengah, ” Awas ya, Pu kamu walau hanya satu anak wanita mamah, namun bila di Pemilihan kepala daerah Jateng tidak menang, kamu saya ‘sembelih’. ” Serta, benar saja, usaha keras Puan dalam memimpin team pemenangan di Jateng sukses mengantarkan pasangan Ganjar-Heru menjadi Gubernur serta Wakil Gubernur Jateng periode 2013-2018. Bahkan juga, dalam Pemilihan kepala daerah 2018, Ganjar yang berpasangan dengan Taj Yasin Maemoen juga kembali memenangi kontestasi. Contoh itu pasti dikit dari bagaimanakah figur Puan sudah menunjukkan dapat belajar dari keteguhan serta usaha keras politik dari ibunya.

Jembatan Komunikasi

Memerhatikan dinamika politik terbaru, banyak yang merindukan figur almarhum Taufiq Kiemas (TK). Dalam beragam percakapan warung kopi, ada seperti rangkuman yang yang hampir kostum jika : ” Bila ada Pak Taufiq Kiemas, dinamika pemisahan seperti saat ini tidak berlangsung, tentu beliau dapat berubah menjadi jembatan hingga situasi masih asik serta politik tunjukkan muka keceriaan. “

Memanglah tidak terlalu berlebih bila banyak yang merindukan figur almarhum TK, yang dengan kelenturannya ingin berjumpa dengan siapa saja serta diposisikannya menjadi kawan. Saya masih tetap ingat benar karena berubah menjadi saksi mata atas usaha Pak TK dalam merajut persaudaraan serta semangat persatuan yang penuh keragaman. Menjadi beberapa contoh, TK demikian luwes waktu berjumpa Habib Rizieq serta tunjukkan kekompakan waktu bicara tentang Pancasila, UUD 1945, NKRI, serta kebhinekaan. Juga demikian waktu untuk agenda sama rombongan Pak TK sebagai Ketua MPR menyambangi pondok pesantren di Ngruki yang diasuh Abu Bakar Ba’asyir, juga suasananya begitu akrab serta sekian kali ada ledakan tawa.

Dari yang dalam opini umum dinilai begitu kontras, TK saat itu juga pasang tubuh untuk dapat mempertemukan. Ia gagas Komunitas Bersilahturahmi Anak Bangsa (FSAB) yang menghadapkan putra-putri korban politik waktu lantas, seperti anak dari tokoh DI/TII, anak tokoh PKI, anak dari (bekas) Presiden Soeharto, serta anak-anak dari Pahlawan Revolusi. Mereka setuju jika sama-sama memaafkan atas yang berlangsung di waktu lantas, menjadi evaluasi untuk mengambil langkah ke depan yang sangat baik untuk bangsa ini merupakan yang terunggul.

Saat ini, kemelut politik dapat dirasa. Memanglah makin lama ada yang mereda, namun ada pula yang malah bertambah. Di dalam kerinduan pada figur TK itu, tampak putrinya yang bernama Puan Maharani. Di usianya yang masuk 45 tahun, ia nyatanya demikian luwes waktu mesti berkomunikasi dengan tokoh politik sekaliber Prabowo Subianto –osok yang dalam empat tahun terakhir diposisikan menjadi tokoh oposan. Tidak mencengangkan juga waktu kurun waktu ke depan misalnya Puan juga berkomunikasi dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang digadang menjadi penerus trah politik Susilo Bambang Yudhoyono.

Pertemuan Puan dengan Prabowo, serta di peluang selanjutnya dengan AHY, pasti dikit jumlahnya turunkan tekanan politik, serta dapat meredakan pemisahan support di kelompok akar rumput. Akan ada pesan politik jika beda pilihan politik tidak semestinya bermusuhan dalam kehidupan bernegara serta terutama kehidupan sosial bermasyarakat.

Menjadi contoh atau deskripsi lainnya supaya pemisahan di orang-orang tak perlu berlangsung, terutama dengan cara berlebihan, dapat juga berkaca pada pertemuan orang politik PDIP Erwin Moeslimin Singajuru dengan Habib Rizieq pada April 2018 lantas di Mekah, Arab Saudi. Bila menelisik waktu terjadinya pertemuan, jadi waktu itu Puan Maharani dalam posisinya menjadi Menko PMK tengah dalam kunjungan kerja ke Arab Saudi untuk pastikan persiapan penyelenggaraan haji 2018. Bahkan juga, Erwin yang disebut Anggota Komis VIII DPR memanglah ikut dalam rombongan Puan dalam beberapa peluang.

Itu berarti, gagasan Erwin menjumpai Habib Rizieq telah pasti ” atas sepengetahuan Puan “. Bhs ” atas sepengetahuan Puan ” ini saya pakai untuk kata ubah karena tidak berani menulis ” atas perintah Puan “, atau ” atas izin Puan “, walau saya mengkaji jika dengan fatsoen politik ” tegak lurus ” di PDIP, rasa-rasanya kok mustahil pertemuan Erwin dengan Habib Rizieq tanpa ada terlibat figur Puan Maharani.

Serta, apa pun itu, memanglah dapat dibuktikan jika pertemuan itu berubah menjadi deskripsi yang positif di kelompok umum, jika nyatanya yang dalam opini dipersepsikan ada pertentangan, juga kenyataannya masih melindungi bersilahturahmi. Di waktu merindukan figur orang politik yang dapat berubah menjadi jembatan komunikasi, makin lama kita dapat rasakan kerinduan itu terobati dengan intensitas kedatangan komunikasi Puan Maharani dalam arena serta dinamika politik di waktu ini, yang penuh keragaman.

About admin